Download sni pdf






















Titar dengan natium tiosulfat 0,1 N yang akan distandardisasi sampai warna kuning larutan hampir hilang. Kerjakan duplo. Keterangan: N adalah konsentrasi natrium tiosulfat, dinyatakan dalam normalitas N W adalah bobot kalium dikromat, dinyatakan dalam miligram mg V adalah volume larutan natrium tiosulfat yang digunakan untuk titrasi, dinyatakan dalam mililiter mL 20, adalah konstanta.

Kocok dan titar dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N hingga warna kuning hampir hilang, kemudian tambahkan indikator kanji 0,5 mL dan lanjutkan penitaran, kocok kuat untuk melepaskan semua iod dari lapisan pelarut hingga warna biru hilang; e lakukan penetapan duplo; f lakukan penetapan blanko; g hitung bilangan peroksida dalam contoh. Goyangkan Erlenmeyer perlahan-lahan untuk menghindari disolusi KOH. Simpan larutan KOH dalam wadah gelas dengan tutup gabus.

Tambahkan batu didih ke dalam setiap Erlenmeyer tersebut di atas. Biarkan labu selama 1 jam pada suhu kamar atau 1 malam di dalam lemari es untuk mengendapkan garam-garam dari asam lemak yang terbentuk selama proses penyabunan sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Dalam kasus tertentu, sentrifugasi dapat digunakan untuk mempercepat pengendapan; A. Cis retinol akan larut sebagai sebuah peak kecil sebelum terbentuk trans;. Gunakan rata-rata nilai RFA yang dihitung dari standar dengan konsentrasi tinggi, sedang dan rendah untuk menguji kuantitasi contoh.

Ukurlah tinggi atau area peak retinol vitamin A dalam ekstrak contoh. Isomer cis retinol mungkin terkandung dalam beberapa contoh. Ukurlah peak cis. Kalikan tinggi atau area peak cis retinol dengan 1,08 sebagai kompensasi terhadap perbedaan absorbansi yang dibandingkan dengan isomer trans. Sebagai alternatif, dapat juga digunakan kalibrasi 3 tingkatan menggunakan polinomial orde nol. Logam yang terlarut dihitung menggunakan alat Spektrofotometer Serapan Atom SSA dengan panjang gelombang maksimal ,8 nm untuk Cd dan ,3 nm untuk Pb.

Jumlah Hg yang terbentuk sebanding dengan absorbans Hg yang dibaca menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom SSA tanpa nyala pada panjang gelombang maksimal ,7 nm. Pindahkan kedalam labu ukur mL dan encerkan dengan air suling sampai tanda garis. Encerkan dengan air suling sampai tanda garis dan kocok. Hentikan pemanasan dan biarkan selama 15 menit; c tambahkan 20 mL campuran HNO3 : HClO4 melalui pendingin; d hentikan aliran air pada pendingin dan panaskan dengan panas tinggi hingga timbul uap putih.

Panaskan hingga larutan jernih dan dinginkan kemudian tuangkan ke dalam labu ukur mL dan encerkan dengan air suling sampai tanda garis. Masukkan ke dalam labu ukur 1 mL dan encerkan dengan air suling sampai tanda garis. AOCS Press. Association of Official Analytical Chemistry. Kategori Pangan. Kategori Pangan Related Papers Sni minyak By nugie angelz.

Click here to sign up. Download Free PDF. A short summary of this paper. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN BSN Email: dokinfo bsn.

Standar ini disusun berdasarkan perkembangan keragaman produksi madu nasional yang meliputi madu hutan, madu budidaya dan madu lebah tanpa sengat trigona serta untuk mengikuti perkembangan dalam dunia perdagangan.

Perubahan yang terjadi dalam standar ini adalah: 1. Penggabungan SNI terkait madu 2. Judul 3. Ruang Lingkup 4. Istilah Definisi 5. Penambahan Pasal 6. Klasifikasi 7. Standar ini dirumuskan dengan tujuan untuk mendukung sistem akreditasi dan sertifikasi produk hasil hutan.

Standar ini disusun oleh Komite Teknis Hasil Hutan Bukan Kayu yang telah dibahas dalam rapat teknis dan disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 13 Agustus di Bogor. Dalam rapat tersebut hadir perwakilan dari produsen, konsumen, pakar, dan pemerintah. Standar ini telah melalui proses jajak pendapat pada tanggal 18 September sampai tanggal 17 November dengan hasil akhir disetujui menjadi SNI Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari dokumen standar ini dapat berupa hak paten.

Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab untuk pengidentifikasian salah satu atau seluruh hak paten yang ada. Permintaan madu terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan manfaatnya.

Madu tidak hanya dipandang sebagai pemanis, tetapi juga diyakini memberikan manfaat bagi kesehatan yang telah terbukti secara ilmiah maupun tradisional turun-temurun. Madu di Indonesia sangat beragam. Keragaman madu tersebut dipengaruhi oleh perbedaan asal daerah, musim, jenis lebah, jenis tanaman sumber nektar, cara hidup lebah budidaya atau liar , cara pemanenan serta cara penanganan pasca panen. Mengingat keragaman tersebut maka standar madu dikembangkan menjadi tiga kategori yaitu madu hutan, madu budidaya dan madu lebah tanpa sengat trigona.

Melalui berbagai pertimbangan, kadar enzim diastase tetap dijadikan parameter mutu sekaligus menjadi salah satu indikator madu asli yang valid.

Kadar enzim diastase madu lebah tanpa sengat dan madu hutan ditetapkan lebih rendah dibanding madu budidaya sesuai karakter madu tersebut. Madu lebah tanpa sengat mengandung sejumlah enzim dan atau protein lain yang berpotensi dijadikan persyaratan mutu. Di masa depan, enzim lain tersebut dapat dimasukkan sebagai persyaratan mutu. Parameter kadar air ditetapkan dengan mempertimbangkan kadar air madu yang baru dipanen dan perlindungan konsumen keaslian dan mutu madu.

Penetapan kadar air tersebut diharapkan tidak memberatkan produsen, namun tetap memberikan perlindungan yang baik kepada konsumen. Keasaman madu lebah tanpa sengat ditetapkan jauh lebih tinggi dibanding madu lainnya. Berdasarkan data, dijumpai keasaman madu lebah tanpa sengat yang ekstrim tinggi. Namun untuk kepentingan perlindungan konsumen, persyaratan keasaman madu lebah tanpa sengat ditetapkan dibawah angka ekstrim. Cemaran logam Pb, Cd, Hg dan cemaran arsen pada madu hutan ditetapkan tidak terdeteksi dengan mempertimbangkan bahwa hutan bebas dari cemaran-cemaran tersebut.

SNI Madu ini menggabungkan 2 dua SNI, yaitu SNI Madu dan SNI Pengelolaan madu agar cakupan SNI menyeluruh mulai dari pengelolaan pasca panen sampai dengan penentuan persyaratan kualitas dan diharapkan dapat mengakomodasi lebih luas keragaman mutu berbagai madu yang ada di Indonesia, serta dapat mengakomodasi lebih luas berbagai kepentingan semua pihak terkait.

Standar ini tidak mencakup madu formulasi madu yang ditambah bahan non madu. Untuk acuan bertanggal, hanya edisi yang disebutkan yang berlaku. Selanjutnya tutup rapat jerigen. Khusus untuk madu trigona tidak boleh menggunakan peralatan berbahan logam.

Jadi, penetapan dilakukan langsung dari contoh asal, tanpa perlakuan lain kecuali penyaringan, pengadukan dan pengocokan. Jika contoh tidak mengandung bagian- bagian yang menggumpal maka contoh cukup dikocok atau diaduk dengan baik. Larutan harus diperbaharui setiap 2 hari sekali. Larutan ini perlu sering diperbaharui karena mudah berjamur.

Hubungkan lengan sampai yang tertutup berukuran 18 mm x 60 mm, dengan tabung reaksi ukuran 18 mm x mm. Setiap interval waktu 5 menit, pipet 1 ml campuran contoh tersebut dan tambahkan kedalam 10,00 ml larutan iod. Campurkan, kemudian encerkan sampai volume seperti sebelumnya dan tetapkan nilai absorbannya pada panjang gelombang nm.

Tabel C.



0コメント

  • 1000 / 1000